Subud Symbol

-----

Kata Pendahuluan Tentang Subud

oleh Roseanna Sawrey-Cookson

-----

Meskipun Subud bersumber pada pengalaman-pengalaman dalam bidang keagamaan, Subud sendiri bukanlah agama atau ajaran. Subud merupakan pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan, yang meliputi dan menguasai seluruh alam raya, baik yang kasatmata maupun yang gaib. Subud juga merupakan pengalaman tentang faal kekuasaan Tuhan di dalam kepribadian manusia. Di dalam Subud sama sekali tidak terdapat dogma atau pendeta. Tidak terdapat pula penguasa selain Tuhan Yang Maha Esa.

Berpadanan dengan ajaran semua agama besar, maka para anggota Subud berkeyakinan bahwa Tuhan tidak dapat tercapai oleh akal-pikiran manusia. Untuk itu kita hanya perlu berserah diri kepada-Nya dengan sabar, tawakal, dan ikhlas sambil memasrahkan kehendak pribadi kita kepada kehendak Tuhan. Subud tidak bersifat ketimur-timuran ataupun kebarat-baratan. Subud adalah milik umat manusia yang esa dalam menghadap ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Subud juga bukan sesuatu yang baru, karena hal-hal yang dialami di dalam Subud, yaitu pencurahan kemurahan Tuhan kepada manusia sesuai dengan kehendak-Nya, sama umurnya dengan sejarah manusia. Namun demikian, ada satu segi Subud yang boleh dikatakan baru, yaitu kenyataan bahwa baru kali ini kiranya curahan kemurahan Tuhan dapat diterima dengan semudah seperti sekarang.

Sejarah Subud mulai di sekitar tahun 1925, ketika almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo secara tak terduga dijamah dengan hebat oleh kekuasaan Tuhan. Kontak dahsyat ini disusul dengan masa tiga tahun yang ditandai gejolak luar biasa di dalam jiwanya. Pada akhir masa itu, doanya terkabul dengan diperolehnya petunjuk bahwa karunia yang telah diterima beliau tidak hanya untuk dirinya sendiri dan dapat dibagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat. Hanya disyaratkan bahwa anggota tidak boleh dicari-cari. Perlu menunggu kedatangan para peminat atas prakarsa mereka sendiri. Mula-mula kontak itu hanya disampaikan kepada anggota keluarga dan tetangga dekat, tetapi lama kelamaan ternyata ada peminat yang datang dari lain-lain tempat di Indonesia untuk menerima kontak, dan lambat laun anggota-anggota tertentu pada gilirannya juga diizinkan menyampaikan kontak kepada para peminat.

Nama Subud mulai dipakai pada tahun 1947, dan sejak tahun 1956 latihan kejiwaan Subud mulai menyebar ke hampir seluruh dunia. Karena sama sekali tidak mencari publisitas, Subud semata-mata menjalar melalui pengenalan dan keteladanan pribadi. Hanya, setelah terbitnya beberapa buku tentang Subud, karangan perseorangan, cukup banyak pembaca menemui di dalamnya sesuatu yang sedang mereka dambakan, secara sadar atau di bawah sadar, sehingga terbangkitlah hasratnya untuk masuk Subud.

Mulai dari tahun 1957 sampai dengan wafatnya pada tahun 1987, Pak Subuh (panggilan akrabnya) banyak bepergian ke luar negeri. Mula sekali--lawatan pertamanya ke luar Indonesia--atas undangan mereka beliau mengunjungi selama beberapa bulan sekelompok kecil anggota Inggris yang telah menerima kontak melalui seorang Eropa yang pernah beberapa lama tinggal di Indonesia. Selama paroan kedua tahun 1957, ratusan orang masuk Subud, banyak di antaranya warga Afrika, Australia, dan Amerika, serta negeri-negeri lain di Eropa, dan mereka pun mengundang Bapak Subuh untuk mengunjungi negerinya masing-masing.

Di dalam Subud Bapak Subuh tidak berfungsi sebagai guru atau penguasa, melainkan sebagai pemimpin kejiwaan yang hanya membimbing para anggota dan memberi keterangan serta nasihat yang dimintanya. Seluruh ajaran yang dibutuhkan manusia telah tersedia, tuturnya, dalam agama-agama besar. Subud tidak bermaksud memisahkan manusia dari agamanya, malah kebalikannya. Subud, melalui proses pembersihan diri, memungkinkan para anggotanya mengamalkan ajaran agama masing-masing, karena lambat laun mereka dapat menjadi manusia sejati sesuai dengan kehendak Tuhan.

Penyampaian kontak Subud tidak memerlukan kehadiran Bapak Subuh pribadi. Di negeri-negeri tempat didirikan cabang Subud, maka banyak anggota, pria dan wanita, yang diizinkan mewakili Bapak sebagai Pembantu Pelatih. Para Pembantu Pelatih belum tentu orang yang telah mencapai derajat rohani yang tinggi--meskipun, setelah 40 atau 50 tahun melakukan latihan Subud, tentu ada orang yang telah mencapai perkembangan rohani yang cukup memuaskan. Pembantu Pelatih dipilih dari para anggota yang pengalaman kejiwaannya memadai. Sebelum wafatnya, Bapak Subuh sendiri mengangkat semua Pembantu Pelatih. Sekarang Pembantu Pelatih baru diangkat oleh sekelompok Pembantu Pelatih dengan nama Dewan Pembantu Pelatih Internasional yang mengabdi selama periode tertentu. Yang dibenarkan bertindak sebagai Pembantu Pelatih hanya mereka yang resmi diangkat oleh Bapak Subuh atau Dewan Pembantu Pelatih Internasional.

Nama Subud tidak mempunyai hubungan langsung dengan nama pribadi Bapak Subuh. Subud merupakan singkatan tiga kata Sanskerta, yaitu Susila, Budhi, dan Dharma. Di dalam Subud ketiga kata tersebut ditafsirkan sebagai berikut: Susila berarti budi pekerti manusia yang baik, sejalan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Budhi berarti daya kekuatan diri pribadi yang ada pada diri manusia. Dharma berarti penyerahan, ketawakalan, dan keikhlasan terhadap kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Setelah kontak dengan daya atau kekuatan Tuhan (Budhi) diterimanya, pelatih menyerah kepada bimbingan Tuhan (Dharma), dan, dengan demikian, dituntun kepada budi pekerti yang utama (Susila). Bimbingan Tuhan seperti itu dialami baik di dalam latihan kejiwaan maupun di dalam kehidupan sehari-hari.

Latihan kejiwaannya adalah dasar Subud. Latihan kejiwaan Subud bangkit dengan sendirinya setelah diterima kontak dengan Kekuasaan Tuhan melalui seseorang yang telah menerima latihan dan mantap dalam berlatih. Oleh karena itu, maka latihan kejiwaan Subud sama sekali tidak dapat diajarkan atau ditiru. Sifatnya niscaya berbeda-beda menurut kebutuhan pelatih masing-masing,. Latihan Subud bangkit atas kehendak Tuhan semata-mata, bukan atas kehendak atau perbuatan seseorang, ataupun atas pemanfaatan hati dan akal pikiran manusia. Walaupun demikian, oleh sebab latihan itu hanya berlangsung selama si pelatih rela menerimanya, maka pelatih mempunyai wewenang tiap saat untuk menyudahinya proses latihan begitu saja.

Pembantu Pelatih, sebagai petugas yang berwenang menyampaikan kontak, tidak melakukan apa-apa untuk membantu orang untuk menerima kontak itu. Pembantu Pelatih hanya menyerah dan menerima latihannya sendiri sambil menyertai latihan orang yang datang untuk menerima kontak Subud itu. Dengan sendirinya terbangkitlah proses yang sama di dalam diri pelatih baru dan, mulai saat itu, proses itu akan berjalan terus. Setelah diambil keputusan awal untuk menerima kontak, dan setelah kontak diterima melalui Pembantu Pelatih, maka pelatih tidak membutuhkan lagi campur tangan hati, akal-pikiran, atau kehendak pribadinya. Yang dibutuhkan, baik dalam latihan awal maupun dalam latihan-latihan selanjutnya, ialah kesediaan menyerahkan kehendak pribadinya kepada kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Latihan kejiwaan Subud dilakukan dua kali seminggu dalam kelompok, dihadiri Pembantu Pelatih. Pria dan wanita berlatih secara terpisah. Pembantu Pelatih bertugas mengatur tempo latihan (setengah jam). Tamat beberapa bulan melakukan latihan, maka seorang anggota baru biasanya akan siap untuk melakukan satu latihan tambahan tiap minggu seorang diri selama setengah jam. Bagaimanapun juga para anggota dianjurkan dengan amat sangat agar tidak melibihi takaran latihan tiga kali seminggu, masing-masing setengah jam.

Pengalaman anggota di dalam latihan beragam-ragam. Latihan tiap orang bersifat khas, dan ciri latihannya senantiasa berubah-ubah. Pada tingkat awal, yang menonjol lazimnya suara dan gerak-gerik jasmani. Perwujudan seperti itu merupakan manifestasi lahir yang normal terhadap jamahan kekuasaan Tuhan. Hal itu mirip cara alat-alat musik tertentu berbunyi dan bergetar jika disentuh oleh tangan manusia. Tetapi seringkali sifat lahiriah yang keras seperti itu akan mereda sedemikian rupa sehingga makin lama makin lembut dan mendalam.

Latihan kejiwaan Subud merupakan kebaktian sejati kepada Tuhan melalui penyerahan kita kepada kehendak-Nya, dan faal latihan adalah proses pembersihan dan perkembangan batin. Banyak unsur di dalam diri kita yang kotor, baik yang ternoda oleh kesalahan turun-menurun maupun yang ternoda oleh kesalahan kita pribadi. Banyak hal yang masih perlu diperbaiki, dan latihan kejiwaan Subud dapat memperbaikinya dengan cara yang di luar kemampuan kita sendiri. Hanya kekuasaan Tuhan yang dapat merasuk sampai lubuk jiwa, tempat perbaikan diri perlu dikerjakan. Hanya Tuhan yang tahu apa yang kita butuhkan. Tidak ada ajaran, tiruan, atau disiplin lahiriah yang dapat memperbaiki kerusakan di dalam diri kita. Itulah karenanya, maka di dalam Subud tidak ada manusia yang mengajar sesama manusianya. Hanya Tuhan sendirilah yang bertindak sebagai guru.

Proses pembersihan diri berlangsung setahap demi setahap sesuai dengan kebutuhan para pelatih, kemampuannya untuk menerima, dan kerelaanya untuk berpasrah diri kepada runtunan perubahan yang menandai pengembangan dirinya. Kekuasaan yang berkarya di dalam latihan tak terhingga tenaganya, namun daya itu tidak akan memaksa seseorang yang belum rela menyerah. Di dalam latihan, kita hanya akan maju sebanding dengan tingkat kepasrahan dan penyerahan kehendak pribadi kita kepada kehendak Tuhan. Proses perbaikan akan mulai pada tingkat jasmani. Seringkali terjadi pemulihan kesehatan jasmani, tetapi jalan latihan tidak dapat diramalkan. Yang boleh dikatakan ialah bahwa tiap orang akan menerima apa yang benar-benar cocok untuk dirinya asalkan dia sungguh-sungguh dalam menyerah kepada Tuhan dan memasrahkan kehendak pribadinya kepada kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Cepat-lambannya proses pembersihan tergantung pada keadaan awal tiap-tiap pelatih dan tidak dapat dipercepat melalui usaha-usaha apapun dari pihak kita. Kita hanya dapat menerima apa yang kita terima sambil menjauhi segala sifat larangan Tuhan. Dengan demikian proses perbaikan yang sedang berlangsung dalam diri kita tidak akan tersia-sia.

Bagi para anggota pribadi maupun persaudaraan secara menyeluruh, Subud meliputi kehidupan lahir dan batin. Oleh karena itu, maka selain latihannya, Subud mempunyai organisasi untuk menangani kepentingannya duniawinya. Namanya World Subud Association (Asosiasi Subud Sedunia: WSA). Di samping itu, tiap cabang mempunyai Komite dan Grup Pembantu Pelatih sendiri yang bekerja sama secara erat menurut rumusan tugas dan kewajibannya masing-masing. Di negeri-negeri yang sudah mempunyai organisasi nasional, terdapat Komite Nasional yang bertanggung jawab atas hal-hal yang berskala nasional. Tanggung jawab pihak Komite meliputi keuangan, pengadaan tempat untuk latihan, pendermaan, usaha-usaha komersial, jika ada, dan lain sebagainya,. Tanggung jawab para Pembantu Pelatih meliputi tugas seperti menyampaikan kontak kepada anggota baru, menjadualkan dan menyertai latihan kelompok, menjelaskan Subud kepada para calon anggota, menjawab pertanyaan para anggota tentang jalannya latihan, memberikan nasihat kepada Komite bila perlu, mengunjungi dan menyertai latihan anggota yang sedang sakit, dan lain sebagainya. Pembantu Pelatih dan Komite tidak mempunyai kekuasaan apa-apa atas para anggota, dan tugas dan kewajibannya hanya bersifat pelayanan belaka. Komite Subud Internasional didampingi oleh Grup Pembantu Pelatih Internasional, dan, bila perlu, kerangka organisasi tersebut diperkuat dengan Komite dan Grup Pembantu Pelatih Regional. (Semua badan itu diangkat untuk periode waktu tertentu, dan para anggotanya sama sekali tidak dipandang sebagai anggota khusus atau manusia ulung.)

Hampir semua dana untuk kegiatan organisasi Subud masih berasal dari sumbangan sukarela dari para anggota, tetapi Bapak Subuh sendiri sangat bercita-cita hendak mengusahakan agar dana Subud bersandarkan sumbangan dari usaha-usaha bisnis yang, secara kolektif atau perseorangan, dijalankan oleh para anggotanya. Dianjurkannya agar pengusaha Subud mempertimbangkan kemungkinan menyumbangkan sebanyak 25% dari laba bersih bisnisnya setelah dikurangi pajak dan biaya operasional yang wajar. Kebiasaan itu sedang mulai meluas di kalangan para usahawan Subud.

Selain berusaha menutupi biaya langsung di atas, Subud juga mempunyai sayap terpisah yang didirikan untuk melakukan pekerjaan sosial, yaitu Susila Dharma Internasional, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) yang berafiliasi dengan UNO (Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa) . Di hampir seluruh dunia, organisasi Subud, karena bersifat nonprofit, terdaftar sebagai organisasi sosial dan, sebagai akibat, bebas pajak. Dengan demikian 100% sumbangan dapat digunakan untuk kepentingan Subud.

Subud terbuka lebar pada tiap calon serius yang sudah berumur 17 tahun ke atas, tak peduli apa bangsa, warna kulit, kepercayaan, atau agamanya. Lazimnya para peminat wajib menjalankan masa percobaan selama tiga bulan setelah mengajukan aplikasinya. Bila, setelah menunggu tiga bulan, seorang calon masih bertekad masuk Subud, maka biasanya ia dibenarkan mulai berlatih.

Ribuan, bahkan laksaan, orang telah masuk Subud, lantas pergi begitu saja. Bahwa Subud mudah diberikan kepada siapa saja yang bersedia menerimanya tidak berarti bahwa jalan Subud selalu mudah ditempuh. Seorang anggota yang sedang mengalami pembersihan dan penyucian diri pribadi kadang-kadang dapat merasa tidak enak badan dan sebagainya. Oleh karena itu, kami tidak menjanjikan apa-apa. Dalam bidang kerohanian tidak ada paksaan. Maka, kepada mereka yang merasa tertarik kepada Subud, kami hanya mengatakan: Datang saja, buktikan sendiri.

London, England, 1966 dan Canberra, Australia, 1995

-----

http://www.subud.com/bahasa